Pepadu Sasak Versus Wimar Witoelar
Menarik membaca tulisan L. Mara Satria Wangsa, pepadu Sasak yang bisa dibilang cukup sukses, beliau adalah staff Menko Kesra Aburizal Bakrie dan juga merupakan salah seorang Eksekutif di kelompok usaha Bakrie. Tulisan-nya yang berjudul “Benarkah Pengusaha hanya Mengejar Untung” yang dimuat di Koran Sindo tanggal 23 Oktober 2008 dimana inti dari tulisan beliau adalah menjawab sekaligus mengecam tulisan Wimar Witoelar yang berjudul “Menyelamatkan Bakrie” yang dimuat di Koran Sindo juga.
Lalu Mara Satria Wangsa mengecam pandangan Wimar Witoelar yang menyebutkan bahwa Bakrie adalah pengusaha nasional tetapi bukan nasionalis. Lalu Mara menilai pernyataan Wimar tersebut terlalu tendesius dan mengarah ke fitnah terhadap keluarga Bakrie. Dijelaskan oleh L. Mara bagaimana usaha keluarga Bakrie dan keluarganya dapat menyerap 35.000 orang tenaga kerja secara langsung dan 50.000 tenaga kerja secara tidak langsung. Ia juga menjelaskan kalau memang keluarga Bakrie tidak nasionalis buat apa menciptakan usaha dan menyerap begitu banyak tenaga kerja di Indonesia. Melalui tulisa itu juga L. Mara mempertanyakan kembali lebih nasionalis mana Aburizal Bakrie atau Wimar Witoelar.
Menanggapi jawaban atau kecaman L. Mara Wimar Witoelar sepertinya tidak mau menanggapinya secara sporadis, ia lebih memilih meng-up load tulisan L. Mara tersebut di situs-nya dan menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada para Netter setianya. Dan sudah bisa ditebak komentar Netter disitus milik Wimar tersebut 100 % mendukung si empunya situs, tapi tentunya hal tersebut adalah wajar-wajar saja, sewajar L. Mara membela Bakrie yang nota bene adalah bos-nya.
Terlepas dari itu semua tiang sebagai orang Sasak cukup bangga pada L.Mara karena sedikit tidak beliau telah membuktikan kepada tiang bahwa bangsa atau orang Sasak bisa seperti bangsa atau orang-orang dari suku lain yang memiliki otak yang cemerlang dan diperhitungkan.
>> Mengenai benar atau salah apa yang mereka sampaikan melalui tulisan-tulisan mereka tersebut tiang serahkan kepada semeton senamiyan, Tabek Walat !!
October 24, 2008 at 9:59 am
Mo tanya pak, apa hubungannya antara jumlah tenaga kerja yg direkrut dan nasionalisme ?
October 24, 2008 at 10:10 am
Bung Wimar memang dari dahulu terkenal sebagai oposan, banyak pandangan-pandangannya yang menyentil penguasa, makanya program perspektifnya tidak pernah bertahan lama, tapi banyak juga pandangan-pandangan yang disampaikannya yang pro pemerintah, dan kalau mengenai kasus Bakrie ini menurut saya memang bung Wimar terlalu tendensius tanpa melihat persoalan secara obyektif.
October 24, 2008 at 10:54 am
Wullan :
Le Wharid :
October 24, 2008 at 12:35 pm
tanggapan untuk mbak wulan..
kaitannya mungkin bahwa dengan semakin banyak merekrut tenaga kerja berarti secara tidak langsung memberikan lapangan pekerjaan yang selama ini memang sulit didapatkan.. dilain sisi juga memberikan penghasilan kepada tenaga kerja dan menggerakkan sektor riil Indonesia dari sisi income yang diterima pemerintah dari pajak penghasilan tenaga2 kerja tersebut..
Bukankah membayar pajak juga termasuk cara kita berkontribusi di ranah nasionalis??
he..he..
hanya berpendapat..
October 24, 2008 at 6:33 pm
menarik juga pernyataan Mamiq Mara niki…. tiang coba objective terlepas dari masalah primordialism….. Coba kita pilah pilah masalah satu persatu… Saya cenderung mengatakan keluarga Bakrie sebagai “the broken wings”…… sayap-sayap patah….. Tinjauan secara bisnis, keluarga ini luar biasa… salah satu kebanggaan bangsa….. Pak Nirwan B yang berjuluk saudagar berhati singa, memiliki tujuh jantung dengan nyawa rangkap…… luar biasa memang patut dibanggakan…… No risk no gain…. entreupreunur sejati.
Disisi lain Bung Wimar bukan orang gila tanpa alasan menuduh…. fakta didepan mata….. Lusi (Lumpur Sidoarjo), Sengketa lahan KPC….. dan yang terakhir saat ini Credit Swap Default….. Keluarga Bakrie harus nombok akibat saham yang digadaikan mengalami kemerosotan nilainya……….Hal ini termasuk salah satu pemicu….Gonjang ganjjing bursa (BEI). Kalo tidak salah jumlah utang kepada creditor mencapai USD 1,2 – 2 miliar (mohon koreksi kalo salah). Angka ini harus ditutupi akibatnya lepas rupiah cari dolar….. maka efek psychologis terjadi semua orang ikut-ikutan melepas rupiah , rupiah anjlok…… nilai tukar rontok……penyebabnya ? Silahkan anda tebak….
Lumpur Sidoarjo pemicunya …. Sumur Banjar Panji……. yang punya siapa… ?????, yang belum membayar royalti tambang …….siapa ?????……….
Lalu Mara Satriawangsa….. nama yang bagus …. sayang terlalu feodal…. bagi saya pribadi sebagai seorang “taruna” yang notabene nya orang sasak juga; Lalu Mara “Just Ordonary people” …. I have no point for him..
Semoga kita sebagai orang sasak harus bisa membaca… harus Iqra’…… bisa menempatkan diri pada tempat yang tepat……
Billahi fii Sabilil Haq.
Sang Taruna
October 25, 2008 at 2:06 am
October 25, 2008 at 10:39 am
“Benarkah Pengusaha Hanya Mengejar Untung”?
Namanya juga pengusaha, mana ada yang mencari rugi. Adanya mencari kerugian buat pihak lain. Kalau tidak mengejar keuntungan, lembaganya tidak akan disebut perusahaan, tapi lembaga amal, charity, atau organisasi nonprofit.
Banyaknya staff Indonesia yang bekerja di perusahaannya tidak bisa jadi ukuran tinggi rendahnya nasionalisme. Andaikan aturan memungkinkan, silahkan saja Bakrie mempekerjakan tenaga dari Uni Eropa di semua lini perusahaannya. Mampu menggaji mereka nggak?
Lalu bagaimana dengan ini:
Jose Luis Durant dan Amuary de Seze adalah masing-masing CEO dan Chairman of the supervisory board Carrefour. Dalam operasionalnya di Indonesia, Carrefour menjalin hubungan bisnis dengn hampir 3.000 supplier (secara tidak langsung, berapa karyawan perusahaan supplier tersebut yang bergantung kepada Carrefour?). Carrefour juga membina dan menjadikan hampir 30.000 petani Indonesia sebagai rekanan dalam menyediakan beras, buah-buahan, sayur-mayur dll. [data tahun 2007]. Apakah dalam hal ini Durant dan Seze dapat dikategorikan sebagai orang yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi terhadap NKRI?
Tapi saya juga memuji mamiq Mara karena keberaniannya berhadap-hadapan dengan seoarng Wimar. Bagaimanapun juga Mamiq Mara sedang menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Baik-buruknya bos, ya tetap harus dibela dong! Andaikan saya dalam posisi beliau, saya pasti akan peras otak untuk membela Bakrie.
October 27, 2008 at 12:02 am
nah kalo urusannya dengan kolaps nya Bakrie karena terlilit utang dan masalah internal managementnya.. itu lain cerita… kalo kolaps ya kolap aja..
saya lebih setuju dengan pendapat menkeu..
October 28, 2008 at 4:36 pm
ikut berbangga miq,
silaq….
December 28, 2008 at 11:04 am
luar biasa, maju terus pepadu sasak