Pemilu Itu …

Menjelang Pemilu 2009 semua Partai Politik sudah mulai ambil ancang-ancang, mulai dari memasang spanduk, umbul-umbul, bendera sampai stiker dan pamflet. Dampak positif dari Pemilu  ialah berputarnya uang dalam jumlah yang besar dan relatif lebih cepat. Pendapatan para tukang jahit meningkat drastis. Tukang sablon kaos, baju, spanduk, bendera, jaket, pamflet, stiker dan topi juga kebagian rejeki. Belum termasuk para penjual jasa-jasa lain yang tak terkait erat dengan kampanye. Pembelanjaan masing-masing Partai untuk keperluan iklan pada masa kampanye memberikan sumbangan yang tak kecil bagi pendapatan perusahaan media cetak, televisi, radio dan internet. Artispun banyak mendapat order. Pada gilirannya, penerimaan pajak negarapun bisa dipastikan meningkat, Seharusnya…


Selain pengaruh positif pada sisi ekonomi, Pemilu ternyata juga memberikan warna kecerian tersendiri. khususnya bagi masyarakat kalangan bawah, baik orang tua maupun anak-anak. Masyarakat kalangan bawah yang Notabene disebut kaum “pinggiran” tampak ceria melihat kampanye. Pinggiran maksud tiang di sini adalah Pinggiran dalam artian yang sebenarnya, karena mereka hanyalah penonton arak-arakan dari pinggir ruas jalan.

 
Tiang masih ingat sekali pada Pemilu sebelumnya di Praya, di tengah sengatan terik matahari, anak-anak dengan hanya bersandal jepit dan baju lusuh begitu melihat rombongan yang lewat berteriak-teriak senang. Sambil melambaikan bendera yang mereka punyai. Apalagi kalau partai yang lewat menyuguhkan tontonan atraktif. Tambah senanglah hati mereka.  Baginya tak masalah partai apa yang lewat. Warnanya mau kuning, biru, hijau, putih, merah atau warna-warni yang lainnya. Toh simbol warna-warni yang mereka miliki juga hasil pemberian, bukannya membeli. Asal bisa menyenangkan hati anak-anak kecil itu, ya sudah.

 

Bila rombongan telah lewat, anak-anak itu dengan sabar menunggu sambil duduk bergerombol. Si Bahri yang ingusnya keluar sambil menarik-narik kolornya ke atas. Si Getoh berkaos merah tanpa celana berlari ke sana kemari. Si Sapi’i berkaos putih dekil dengan kepala diikat pita hijau, duduk sambil menghisap es mambo. Para orang tua mereka juga duduk-duduk disepanjang trotoar, dengan hanya mengenakan daster yang sudah pudar warnanya, mereka bercengkrama satu dengan yang lainnya sambil menunggui anak-anak mereka.

 

Lewat tontonan gratis berupa kampanye di jalanan, kaum ibu-ibu merasa senang karena anak-anaknya bersuka-cita tanpa merengak minta mainan ini dan itu. Kecerian yang diperoleh nyaris tanpa ongkos. Paling-paling modal topi, payung dan sedikit minuman pelepas dahaga. Itupun sudah cukup. Benar-benar sebuah keceriaan masal yang berharga murah. Kaum pinggiran yang sering dikatakan sebagai orang-orang yang kurang pendidikan, miskin, buta politik, dan golongan yang mudah “terbeli”, begitu ceria melihat kampanye.

 

>> Sementara itu orang seperti tiang ini hanya bisa memperhatikan mereka tanpa bisa “membelikan” apa-apa. Memberikan sedikit keceriaanpun belum tentu bisa.

2 Responses to “Pemilu Itu …”

  1. miq mbe lain berita amrozi cs no kembekn tehapus cobak pirengan
    http://swaramuslim.net/galery/more.php?id=6126_0_18_0_M

  2. mamiq salam kenal..silak berkunjung tepak pegedangan tiang..oh ya mamiq..dimana tiang bisa dapat ambil banner kommunitas buat tiang pasang di web tiang.
    tiang tggu ya

Leave a Reply