
Malam itu datang seorang sahabat, berkeluh kesah tentang perjalanan hidupnya yang menurutnya tidak pernah mulus…
Malam itu ia berkeluh bahwa sudah ratusan kali ia melamar pekerjaan dan selalu gagal lantaran ia tidak memiliki gelar keserjanaan…
Setiap kali melamar pekerjaan, berkas lamarannya hanya berakhir di bak sampah…
Kemudian ia bertanya kepada tiang, apa kalau kita tidak memiliki gelar maka kita tidak berhak untuk bekerja ?, begitu pentingkah gelar sarjana itu ? apakah gelar lebih pentng dari kemampuan ?
Tiang cukup terenyuh mendengar pertanyaannya, karena tiang sadar bahwa sahabat tiang ini adalah salah satu dari jutaan sahabat tiang yang tidak memiliki gelar sarjana dan selalu ditolak saat melamar pekerjaan…
Tiang masih beruntung karena begitu tamat kuliah dan menyandang gelar sarjana tiang langsung ditawari bekerja oleh sebuah perusahaan yang cukup bonafit dan diberikan jabatan yang cukup bergengsi pula.
Tiang balik bertanya kepada sahabat tiang tersebut, tahukah meton berapa banyak peluang atau pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar keserjanaan?
Jika meton bukan sarjana, janganlah cari pekerjaan yang mensyaratkan kesarjaanan, karena meton mungkin hanya buang waktu. Perusahaan yang mencari calon pegawainya dengan mensyaratkan kesarjaaan juga tidak salah, karena itu adalah hak mereka dalam menentukan syarat
Cobalah meton mencoba sesuatu yang lain dari yang sekarang biasa meton lakukan. Bukankah ada semeton lain yang kurang lengkap organisasinya, tidak canggih cara-caranya, tetapi menghasilakn keuntungan dan pertumbuhan yang lebih baik
Mengapa meton tidak berhenti mengatakan apa saja yang bisa meton lakukan, tetapi mulai menunjukan apa yang bisa meton lakukan? Bukankah banyak pemilik perusahaan yang tidak sarjana, akan tetapi mempekerjakan ribuan orang sarjana dalam perusahaannya ?
>> Nah meton senamiyan bila kekhawatiran mengenai kemampuan membuat meton membatasi yang akan meton kerjakan, maka sebetulnya semeton telah membatasi yang mungkin semeton capai..